Bagi pegiat sosiologi begitu mendengar Minangkabau yang pertama terbesit adalah Minangkabau salah satu penganut sistem matrilineal. Bagi pencinta kuliner Minangkabau selalu identik dengan masakan rendang yang mampu mengugah selera setiap insan. Bagi pengiat sejarah Tan Malaka yang bernama lengkap Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka merupakan ikon yang sangat menarik untuk dibahas. Kenapa begitu menarik untuk mengulas sejarah tokoh “raksasa” berjuluk Bapak Republik ini?. Atau perlukah kita secara berjamaah melakukan pembelaan terhadap kiprah perjuangan “Macan Suliki” ini?.

Rumah kelahiran Tan Malaka di Pandam Gadang Suliki, Sumatera Barat
Tan Malaka Meretas Republik Indonesia
George Washington merupakan salah satu “Founding Fathers” pendiri Amerika Serikat. Sejarah Singapura modern tidak dapat dipisahkan dari sosok Thomas Stamford Raffles yang dicatat sebagai pendiri Singapura modern. Tan Malaka merupakan tokoh pertama yang meretas cita-cita Republik Indonesia sebagai bangsa yang merdeka melalui karya monumentalnya “Naar de ‘Republiek Indonesia” yang terbit di Kanton April 1925, edisi keduanya terbit di Tokyo bulan Desember 1925. Naar de ‘Republiek Indonesia yang ditulis Tan Malaka pada tahun 1922 selama pembuangan di Tiongkok mengupas dengan lugas, situasi Dunia, situasi Indonesia dan Program PKI. Tidak terlalu berlebihan Muhammad Yamin menyematkan gelar kepada Tan Malaka sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Tan Malaka telah menghela gagasan Republik Indonesia pada tahun 1922. Baru enam tahun setelahnya Bung Hatta di pengadilan den Haag 1928 melalui pledoi pembelaanya menulis Indonesia Merdeka (Indonesie Vrij). Soekarno baru menulis pidato pembelaanya Indonesia Menggugat pada persidang di Landraad Bandung pada tahun 1930.
Tan Malaka mengibaratkan Indonesia merdeka dengan burung Gelatik yang lemah dengan berbagai ancaman yang siap memangsanya setiap saat, burung Gelatik hidup dalam ketakutan tanpa kemerdekaan. Saat burung Gelatik hidup dalam rombongan yang besar, mereka berubah dari mahluk yang lemah menjadi pasukan yang kuat, begitulah Tan Malaka mengingatkan bangsanya tentang pentingnya persatuan untuk mewujudkan kemerdekaan.
Setelah berakhirnya perangan dunia I Tan Malaka melihat kekuatan imprealisme semakin memudar dan melemah. Kondisi tersebut membuka peluangan bagi bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan. Revolusi Indonesia telah memasuki usia mengandung tua tinggal menunggu waktu untuk lahirnya kemederkaan. Indonesia merdeka yang di cita-cita Tan Malaka harus di perjuangan melalui Revolusi total oleh sebab itu gagasan Indonesia merdeka telah dituntaskan oleh Tan Malaka melalui “Naar de ‘Republiek Indonesia” yang tidak hanya memuat gagasan Indonesia Merdeka tapi juga strategi serta taktik kemerdekaan.
Tan Malaka Dan Madilog
Sikap dan tindakanan Tan Malaka merupakan konsekuensi dari cara berfikir yang dialektis. Pola berfikir tersebut lahir semenjak Tan Malaka bersentuhan dengan pemikiran Karl Marx yang berkelindan dengan filosofi adat Minangkabau. Tapi perlu di garis bawahi Tan Malaka merupakan pribadi yang kritis terhadap berbagai keilmuan yang lahir dari pemikiran Barat. Dalam karya Massa Aksi Tan Malaka dengan lugas dan bernas menuliskan “Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.”
Sebagai mana diketahui Madilog karya monumental selesai di tulis oleh Tan Malaka pada tahun 1943 bertepatan dengan kekalahan Belanda dari pasukan Nippon. Madilog ditulis selama 8 bulan, dari 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943 yang merupakan kritik atas pola pikir masyarakat umum Indonesia yang masih dogmatis dan tahayul. Tan Malaka melalui Madilog sudah merancang road map pola berfikir yang maju serta progresif bagi kaum pejuang kemerdekaan. Dan yang lebih hebatnya karya madilog tersebut sampai saat ini masih memilki relevansi dan kontekstualisi kehidupan masyarakat. Pada Madilog tersebut Tan Malaka ingin menjelaskan konsep-konsep dasar materialisme dialektika, yang dipandang sebagai perkakas penting untuk memahami dasar-dasar perjuangan revolusioner. Pada bagian lain Madilog diharapkan dapat menjadi penyangga berfikir ilmiah bagi kaum proletar masyarakat Indonesia yang selama ini "dininabobokan" oleh saluran pemikiran yang dogmatis.
Buya Hamka memberikan kata pengatar Islam Dalam Tinjaun Madilog menjelaskan, “Islam dalam tinjauan Madilog” telah saya baca dengan seksama dan penuh minat. Yang mula-mula sekali menjadi perhatian saya ialah pengakuan terus terang dari pada Tan Malaka bahwa sumber Islam itulah yang terutama hidup dalam hati beliau”. Melalui “Islam Dalam Tinjauan Madilog” Tan Malaka mempertegas keimanannya sebagai seorang muslim. Serta, dalam buku yang sama ia menerangkan posisi pandangannya terhadap Islam sebagai agama terbaik yang dapat menjadi lokomotif perubahan sosial. Maka tidak mengherankan apa bila Tan Malaka memimpikan bersatunya gerakan kebangsaan dengan gerakan Pan Islam untuk enyahnya segala bentuk penjajahan.
Dengan ketulusan hati Buya Hamka mejelaskan, adapun setelah membaca “Islam Dalam Tinjauan Madilog” , insyaAllah saya bahwasanya di jaman modern ini untuk membela agama perlulah kita memperluas pengetahuan, di dalam ilmu-ilmu yang amat perlu diperhatikan di jaman baru. Sosiologi, Dialektika, Logika dan lain-lain sebagainya yang berkenaan dengan masyarakat modern tidaklah boleh diabaikan kalau betul kita ingin Iman-Islam itu menguasai masyarakat jaman sekarang”. Hal tersebut sudah cukup menjadi hard fact bahwa pisau analisis yang dikembangkan Tan Malaka melalui Madilog merupakan sesuatu yang diperlukan oleh umat dan bangsa.
Sebagai pejuang “Bapak republik’ sekaligus pimikir yang cermelang dengan ratusan karya yang telah dilahirkan, serta konsitensi sikap dan pikiran Tan Malaka terhadapa Islam maka sesungguhnya sejarah telah mencatat sepak terjang dan karya Tan Malaka tanpa harus melakukan pembelaan terhadap Tan Malaka. Tugas kesejarahan kita hari ini adalah meletakan sejarah Tan Malaka pada porsi yang sebenarnya tanpa distrorsi karena hanya dari sejarah yang jernih kita dapat mengali pembelajaran dari masa lalu untuk menatap masa depan yang gemilang.
Luak nan tuo Pemerintahan Pahlawan Nasional Sejarah Indonesia Tokoh Minangkabau Kekerabatan Nagari Minangkabau Perjuangan Kemerdekaan Sejarah minangkabau