DETAIL ARTIKEL

Universitas Tertua Minangkabau Itu Bernama “Lapau”
Suasana di dalam sebuah Lapau

Universitas Tertua Minangkabau Itu Bernama “Lapau”

admin 2 years ago Budaya

Bagi masyarakat Minangkabau khususnya bagi kaum laki-laki Lapau (Kodai, Pajak atau sebutan lainya) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Lapau telah menjadi episentrum ruang publik sekaligus ruang intelektual masyarakat Minangkabau yang tumbuh dari kearifan lokal masyarakat, oleh sebab itu eksistensi Lapau bagi lelaki Minangkabau sama halnya dengan keberadaan surau, Basurau, Balapau”.

            Gusti Asnan Sejarawan Universitas Andalas memperkirakan Lapau mulai muncul dalam kehidupan masyarakat Minangkabau pada akhir Abad ke-18 bersamaan dengan tumbuhnya pusat perniagaan di berbagai daerah Minang. Edwar Bot mengutip makalah Kongres Kebudayaan Indonesia yang ditulis Gusti Asnan (2013), “Bisa dikatakan lapau mulai menjadi bagian dari sistem sosial (juga politik dan ekonomi) Minangkabau ketika aktivitas niaga mulai marak di daerah itu. Lapau saat itu mulai menjadi ‘lembaga’ penting dalam jaringan niaga antara daerah pantai dan pedalaman Minangkabau.

Bagi masyarakat Minagkabau lapau bukan hanya sebatas tempat untuk minum kopi “malapeh arak”. Lapau merupakan palanta demokrasi yang merupakan penjelmaan yang hidup (living emdodiment) masyarakat Minangkabau. Lapau secara alamiah mempertemukan masyarakat Minangkabau dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, politik, umur serta pendidikan yang beraneka ragam. Hebatnya di Lapau berbagai isu boleh di “perjual belikan” secara bebas tanpa ada batasaan formal. Maka tidak heran persoalan geopolitik, ekonomi, agama dan budaya menjadi topik diskusi hangat yang mengalir tanpa ada ujung dan pangkalnya atau yang lebih kita kenal dengan Ota Lapau. Walaupun demikian diskusi lapau yang berlangsung dari generasi ke generasi selanjutnya, telah membentuk karakter masyarakat Minangkabau yang sangat terbuka untuk ide-ide baru (ambiak tuah ka nan manang, maambiak contoh ka nan sudah). Lapau juga telah membentuk karakter masyarakat Minangkabau yang tidak hanya menghargai perbedaan tapi juga menjadikan perbedaan sebagai energi positif  pembangunan (ba alam lapang ba padang laweh, ba silang kayu di tungku disitu api ka hiduik). Pendidikan Lapau juga telah membentuk karakter masyarakat Minangkabau yang egaliter (duduk samo randah tagak samo tinggi).

            Tidak hanya sebagai palanta demokrasi Lapau bagi Masyarakat Minangkabau juga merupakan ruang ekonomi strategis. Sebagaimana kita ketahui, secara umum Lapau menyediakan beraneka minumnan dan makan yang dapat dipesan oleh pengunjungnya. Tanpa disadari aktivitas ekonomi ini telah menjadi penyanggah ketahan ekonomi bagi pemilik Lapau. Tidak hanya sampai disitu Lapau juga merupakan ruang tempat menjajakan berbagai barang dan jasa. Dari mulut ke mulut, pengunjung Lapau biasanya secara spontan akan bertindak sebagai marketing baik barang ataupun jasa dan tak jarang berujung pada transaksi ekonomi yang bernilai dengan kewajiban “uang dongga atau upah tunjuak” yang dalam istilah ekonomi dikenal sebagai komisi. Lapau juga menjadi indikator pertumbuhan dan ukuran daya beli masyarakat setempat, semakin ramai pengunjung Lapau maka akan berkorelasi dengan pertumbuhan dan daya beli masyakat yang baik, begitu juga sebaliknya.

            Dimanakah pusat informasi masyarakat Minangkabau? Ya tidak salah lagi Lapau merupakan salah satu pusat informasi masyarakat Minangkabau baik informasi yang diperoleh dari media maupun informasi yang disajikan langsung oleh pengunjung Lapau. Para pengunjung Lapau biasanya akan melakukan analisis yang mendalam terhadap berbagai informasi yang berkeliaran di Lapau. Karakter masyarakat Minangkabau yang kritis terhadap segala hal, tentu tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Lapau yang dinamis. Untuk informasi yang diluar akal sehat, pengunjung Lapau akan melabeli dengan istilah indak masuak diaka”. Sementara untuk informasi yang masih perlu pembuktian lanjut, pengunujung Lapau secara kolektif akan berusaha untuk mencari kebenaran informasi tersebut dan melabeli informasi tersebut dengan “koba bagalau”.

            Disisi lain Lapau telah menjelma menjadi tempat pertemuan kemajuan rantau dan kearifan kampung. Tidak dapat dipungkiri Lapau merupakan terminal pertemuan antara perantau dengan masyarakat yang tinggal di kampung. Biasanya para perantau akan bercerita kemajuan dan perkembangan yang terjadi diberbagai daerah perantauan. Melalui Lapau telah terjadi transformasi kemajuan rantau yang berpadu dengan kearifan lokal, proses ini dengan sendirinya menjadi salah satu faktor menguatnya tradisi merantau dikalangan masyarakat Minangkabau. Lapau telah menjadi jembatan transformasi perantau dengan kaum muda Minangkabau yang dahaga akan kesuksesan hidup.

            Pada akhirnya Lapau tumbuh menjadi pranta sosial masyarakat Minangkabau dengan kuatnya ikatan solidaritas antara pengujung Lapau. Maka tidak heran anggota satu Lapau memiliki ikatan emosional yang kuat yang terlihat disaat ada musibah dan perhelatan. Disaat kemalangan (kematian) anggota Lapau biasanya akan bahu-membahu ikut terlibat dalam prosesi penyelenggaran jenazah dan bertaksyiah secara bersama-sama. Pemandangan yang sama juga terlihat disaat hajat perkawinan, dimana tuan rumah secara khusus “mamanggia ka Lapau.

            Berkaca pada perananan Lapau yang telah diurai diatas, secara filosofi tentu tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Lapau merupakan Universitas tertua bagi masyarakat Minangkabau. Layaknya sebuah perguruan tinggi yang memiliki Tridarma Perguruan Tinggi, lapau telah tumbuah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran, Lapau telah memainkan peranan sebagai pusat penelitian dan tidak lupa Lapau telah menjadi pusat pengabdian dalam skala tertentu bagi masyarakat Minangkabau.  (APP)


Artikel ini telah dibaca sebanyak 2930 kali

Adat istiadat minang Budaya Minang Budaya Minangkabau Diaspora Minangkabau Nagari Adat Rumah Makan Padang warisan budaya Wisata budaya Minangkabau


SURAU, LAPAU DAN RANTAU ADALAH DASAR BUDAYA PENDIDIKAN SUKU MINANGKABAU


(0) Comments

TAGS


Abad ke 1 M Abad ke 17 M Abad ke 18 M Abad ke 19 M Abad ke 2 M Abad ke 20 M Adat istiadat Adat istiadat minang Alek nagari Arkeologi Asal usul bangsa minangkabau Asal usul minang Asal Usul Minangkabau Asal usul orang minang Asal usul suku minang Bahasa daerah Balai Budaya Minang Budaya Minangkabau Budaya sumatera buku budaya Sumatra Diaspora Minangkabau emas Minangkabau Etnografi Minangkabau Fort De Kock Fort van der Capellen Geografis Ikatan Keluarga Minang jalur perdagangan Sumatra Kearifan lokal Kedaulatan Minangkabau Kekerabatan Kuliner minang Kuliner tradisional minang Luak bungsu Luak nan tangah Luak nan tuo Makanan Khas Minang Makanan Tradisional Minang Marawa Masjid Masjid bersejarah Masjid tua Masyarakat Minangkabau Matrilineal Menhir Minangkabau Minangkabau dan VOC Minangkabau International Network Minangkabau prakemerdekaan Minangkabau zaman kolonial Nagari Adat Nagari Minangkabau Organisasi Minang Pahlawan Nasional Panghulu Minangkabau Pembagian suku Pemerintahan Penghulu Peran Minangkabau perdagangan Nusantara Perjuangan Kemerdekaan Pituah Pusako Tinggi rantau Minangkabau Rendang resensi buku budaya Resensi Buku Sejarah Rumah adat minang Rumah Makan Padang Sejarah Indonesia Sejarah minangkabau Sejarah Pagaruyung Sejarah penyebaran islam sejarah perdagangan Indonesia Sejarah Sumatra Simbol Minangkabau Sistem Matrilineal Soko dan Pusako Sosial Suku di minang Surau Tanah Perantauan Tanah pusako Tokoh minang tokoh minang kabau Tokoh Minangkabau Tradisi Minangkabau Ulama minang warisan budaya Warisan Minangkabau Wisata budaya Minangkabau Wisata Sejarah Minangkabau Zaman Prasejarah